Hijrahmu, Rinduku

Tak terbayangkan olehku
getir yang menyelimutimu
di hari-hari penuh pilu
ketika musuh-musuh memburumu

kau tawarkan iman
dijawab dengan cacian
kau bawa kedamaian
disambut dengan siksaan

pedih yang tak tertahan
menimpa sahabat sekawan
nabi dan sahabat yang terancam
hidup umat kian mencekam

dulu terboikot kerabat Quraisy
ke negeri Thaif pun terusir
di tanah kelahiran tergencet
ruang dakwah jadi mepet

kau cari tanah perlindungan
Allah memberi jawaban
tanah Yatsrib penuh harapan
berkibar-kibar menunggu tuan

perjalanan mengendap-endap
khawatir musuh datang menyekap
padahal jarak tidaklah dekat
Makkah–Madinah teramat penat

hati muhajir sedang berdesir
meski begitu tak usah kuatir
kaum ansar sedang bersyair
menunggu kawan sedang terusir

hijrahmu adalah perjuanganmu
juga pengorbananmu
menjadi inspirasiku
selalu terindu olehku

Surabaya, 8 Muharam 1429
Mohammad Nurfatoni

Pagikan Siang dan Malam

: pagi tiba tak pernah ingkar janji

pagi ini dengan kemaren rasanya sama
mentari tetap merekah
burung-burung tetap berkicau
udara tetap segar
hanya aku belum bergegas pergi

tersenyumlah bagi yang telah beraktivitas pagi
karena sebentar lagi mentari meninggi
dan burung-burung pun akan pergi

tapi pagi sebenarnya bukan saat yang sesaat itu
pagi adalah semangat terbarukan
maka bawalah pagi kemana engkau pergi

arungilah siang dengan pagimu
selamilah malam dengan pagimu
siang dalam pagimu akan membuatmu tetap bersemangat
malam dalam pagimu akan terus bergairah

Sidojangkung, 18 Dsember 2011
Mohammad Nurfatoni

Tertawan Cinta Menawan

I

Sejenak aku mengenang masa-masa indah penuh hasrat 
saat pertama aku terkurung oleh perjumpaan yang menggelora 
yang kemudian aku ikat erat dalam perjalanan waktu bersamamu
ada sekian catatan tertoreh dalam lembaran-lembaran hidupku

saat bening sorot matamu memancarkan cahaya warna-warni
laksana lukisan jiwa yang menyemburkan aneka kembang wangi
aku kalut oleh kilatan-kilatan yang menggoda kejernihan hati
terjerat dalam balutan indah pelangi yang sesak misteri

bibirmu bergerak mengukir udara melahirkan simbol-simbol sarat makna
menyajikan senyum imaji penuh tafsir bagi aku yang masih pemula
aku gugup menyambutnya karena ragu dalam menafsirkannya
sebuah sapa, sinis, atau ajak yang menggoda

dadaku mengembang luas bagai terisi gelembung buih-buih bara
bercampur rasa antara suka yang menggelora dan cemas tak terkira
kali pertama aku terguncang oleh tarian-tarian jiwa berbalut asmara
aku pun bertanya apakah aku sedang terbakar percik-percik cinta

II

Rupamu memang menawan
tak heran jika sekian jiwa telah tertawan
dalam lingkaran rasa yang mencengkeram 
kini tibalah giliranku yang harus kau tanam 

aku terseret dalam pusaran cinta yang melawan
bergelombang ombak menghadang di depan
tapi hasrat menggelora apa bisa ditentang
ketika dua jiwa berjalin cinta saling erat merentang

hatiku dalam hatimu
bertaut-padu dalam satu
menggenggam dunia dalam rumus baku
semua hanya untuk kamu 

III

Masa bergulir menyisir jejak-jejak perjalanan
kudekap kau dalam balutan tanggung jawab yang kuperan
setelah sekian lama waktu tercipta dalam kenangan
benarkah bahwa cinta itu masih penuh berkesan

masihkah aku cinta kamu
kala rupa itu berubah ramu
menjelma dalam ragu
tak lagi seperti dulu

aku terkesima oleh sebuah tanya
di manakah letak cinta 
pada raga yang rupawan
atau pada jiwa yang menawan

aku mulai ragu oleh kata cinta pertama
yang mengalir deras bagai madu diperas
benarkah aku cinta sepenuh-penuhnya
ataukah hanya pada tubuh berparas

kini aku ditimpa oleh kenyataan
diuji bertubi-tubi pengalaman
dan harus sanggup membuktikan 
bahwa cinta harus tetap menawan

Sidojangkung, 25 Januari 2008

Mohammad Nurfatoni